Tuesday, February 21, 2012

Tangisan Rhuisis


Setetes air menetes di pelipisku. Kubuka mataku. Tidur siang di bawah pohon pisang, ternyata tidak dapat menutupi panasnya sengatan matahari. Kuputuskan untuk kembali ke rumah. Aku berjalan kaki, melewati hutan Mazie, hutan tempat kutidur. Diberi nama “Mazie”, mungkin karena jalannya seperti “maze” yang suka bikin kesasar. Radius 200 meter, aku melihat sesuatu. Kupincingkan mataku dan mengambil spear. Kuambil ancang-ancang hendak melemparkan spear ke arah sasaranku. Dan… TEPAT SASARAN! Aku mengenai cerpelai gemuk, yang terkulai lemas akibat lemparan spear-ku. Aku memberinya heal (mantra penyembuh). Lukanya menutup, tidak ada bekas luka. Aku menggendongnya, membawanya pulang.

Tidak lama, aku sampai di desaku. Greemasht, desa bangsa elf. Aku tinggal dengan ibu dan adik perempuanku. Desa kami sangat sederhana. Beratus-ratus tahun yang lalu, bangsa dwarf berperang dengan bangsa elf. Kamilah anak cucu yang tersisa dari nenek moyang kami yang masih hidup. Peralatan kami untuk melindungi diri kami ialah sebuah spear, sedangkan bangsa dwarf memiliki topi pelindung, tameng dan pisau batu. Untunglah, kami memiliki sepasang sayap, yang tidak dimiliki dwarf. Aku tidak tau latar belakang apa yang terjadi sampai kami berperang. Dan tentu saja, tidak mau tau juga.

Aku berbaring di kasurku tercinta. Belum ada 1 detik. Ibu memanggilku, “Lucca, daripada kau bermalas-malasan lebih baik kau jemput adikmu pulang.” Aku bangun dengan tidak rela. “Ya, bu.” jawabku malas. Aku terbang keluar dari jendela kamarku. Adikku Rhuisis, biasanya berenang laut Uryel. Laut itu memisahkan bangsa elf dan dwarf. Untuk sampai ke sana, aku harus terbang ke utara melewati hutan Mazie dulu. Tidak lama, aku segera sampai di sana. Kulihat teman-teman sebaya adikku siap-siap hendak pulang. Namun, adikku tak tampak.
“Hei,di mana Rhuisis?” tanyaku pada Ijha, salah satu temannya. “Dia masih berenang jauh di dalam sampai palung laut.” jawab Ijha. Wah, wah... Kuakui ia memang suka berenang. Aku duduk di tepi laut menunggunya. Kepalanya yang mungil tersebur keluar dari permukaan air. “Kakak Cca!” panggilnya. Aku tersenyum. Melihat mukanya saja, aku sudah ingin tertawa geli. “Rhue kemari. Waktu berenang sudah habis.” kataku sok tegas menahan geli.

Rhue segera datang memelukku. Aku balas memeluknya. Aku sangat sayang pada Rhue. Ia adik yang mungil dan manis. Sesaat terdengar bunyi gemuruh di belakangku. Betapa terkejutnya aku saat menoleh, melihat badai laut datang menghampiri arahku. Awan terlihat hitam legam penuh kilat dan guntur. Rhue ketakutan. “Otell (mantra pelindung).” kataku. Tapi badainya sangat besar, maka Otell yang melindungi kami pecah dan kami tersedot ke dalam badai. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain memeluk adikku erat, agar kami tidak terpisah.

Gelap….. Aku terbangun saat hari sudah malam. Aku terdampar di hutan. Kulihat keadaan sekitar itu sama sekali bukan hutan Mazie. Aku mendapati Rhue tidak ada di sampingku. Kulihat sayapku robek akibat badai tadi. Aku bisa saja memulihkan sayapku, tapi itu akan menguras 100% tenaga sihirku. Sedang aku masih membutuhkannya, jikalau terjadi apa-apa denganku atau Rhue.

Dengan mengikuti rasi bintang Orion, aku berhasil keluar dari hutan. Tiga langkah ke depan, aku menemukan pita polkadot biru, yang Rhue kenakan. Kresek… kresek… Kudengar jejak kaki dari hutan. Aku bersembunyi di balik pohon. Aku melihat bangsa dwarf keluar dari semak belukar hutan. 1.. 2.. 3.. 4.. 5.. dan 6 dwarf ada di sana. Aku mengendap-endap menyusul di belakang mereka. Aku sampai di desa dwarf.

Aku memanjat bebatuan untuk mengintip ke dalam. “Sedang apa kau!?” Aku terkejut oleh suara dwarf wanita yang sedang memergokiku. BRAKKK…. Aku terjatuh. Aku menyerngit kesakitan. Ia mendekatiku. Membantuku berdiri, kemudian memapahku ke tempat yang sepi, tidak jauh dari situ. Ia menyandarkanku pada sebuah pohon. Mataku melirik bakul bawaannya. Ia sadar aku melihat bakulnya, kemudian ia membukanya. Di dalamnya ada gula-gula warna warni. Ia mengambil yang berwarna pink dan menyodorkannya padaku. Dia sama sekali tidak bicara, hanya mengamatiku.

“Siapa namamu?” kuberanikan diri menanyakan namanya. “Viveka” jawabnya singkat. “Aku Lucca.” Aku mengeluarkan pita Rhue dari kantongku. “Badai laut Uryel membawa kami ke sini dan sekarang aku terpisah dari adikku, Rhue.”
“Kakak Cca?” Viveka menunjukku. Hanya Rhue yang memanggilku dengan sebutan kakak Cca. Aku bangkit melupakan sakitku. “Kau tau di mana dia, Viveka? Aku mohon aku harus menyelamatkan adikku,” pintaku.
Viveka menggeleng, “Rhue sudah melakukan kesalahan besar.” Aku bingung. Bagaimana bisa anak sekecil itu melakukan kesalahan besar. Aku tidak paham maksudnya. Viveka bangkit, beranjak pergi. “Katakan apa salahnya?” paksaku. Viveka menoleh sembari tersenyum dingin, “Ia seorang pembunuh”.

Pertemuanku dengan Viveka membuatku tidak bisa membuat mataku terpejam. Hari sudah pagi. Aku tidak beranjak dari tempatku semalam. Aku memaknai sekata demi sekata dengan sekata yang Viveka ucapkan. Ia menyebut Rhue pembunuh. Minimal ia harus memberitahu alasannya berkata seperti itu. Lama terdiam.. berpikir.. Aku melihat sepasang kaki di depanku. Viveka kembali. Seperti biasa, hanya diam mengamati.
“Apa yang membuatmu kemari?” tanyaku dengan muka masih tertunduk menatap kakinya. “Aku mencemaskanmu.” jawab Viveka singkat. “Kau mencemaskan elf yang baru pertama kali kau temui? Lucu sekali.” cibirku. Ia tidak menjawab, kemudian mengambil tempat di sampingku. “Pulanglah!” Viveka menengadahkan wajahnya, meniup kecil poninya. “Dia sudah tiada.” Aku yang tidak mau percaya mengeluarkan spear, menodongkan ke lehernya. Ia sama sekali tidak takut, malah tersenyum.

Habis sudah kesabaranku. Aku berlari menuju gerbang depan desa dwarf. Penjaga pintu siaga melawanku. “Eston! (mantra explosion)” 2 dwarf yang menghalangiku terpental. Aku menerobos masuk tanpa disuruh. Para wanita dan anak-anak dwarf berteriak ketakutan. Bukan mereka yang aku incar. Aku menoleh mencari kepala suku dwarf. BUUKKKKK…. Aku dihantam salah satu algojo dwarf. Aku terhuyung ke belakang, mencari pegangan. “Eston!” Algojo dwarf itu pun terpental. Kini, semua dwarf pria mengepungku dengan membawa pisau batu. Dengan cepat aku mengucapkan, “Sionearth”. Tanah di sekelilingku bergetar dengan seketika pecah mengeluarkan api ke arah dwarf yang mengepungku.

Di depanku berdiri seorang dwarf. Ia terbang tidak menapak tanah. Sepertinya ia menggunakan mantra “Yshos” mantra terbang, untuk menerbangkan dirinya. Dalam waktu sedetik, ia sudah berada di mukaku. Belum sempat aku mem-protect diriku, ia sudah mengucapkan “Owimb” DAAARR………………. Sihir bom yang tak bisa kuelakkan, aku muntah darah seketika. Aku langsung memberi heal. Bertarung mati-matian melawan dwarf membuat kadar sihir energiku terkuras, maka heal-ku tidak bekerja maksimal. Lukaku tertutup namun, aku gemeteran kesakitan di permukaan tanah. Aku melihat kepala suku dwarf mengangkat pisau batunya hendak mengucapkan mantra terakhir. Kupikir habislah sudah hidupku. Aku akan mati, di tanah dwarf tanpa bertemu Rhue ataupun ibuku. Aku memejamkan mata siap mati. “Otell” Seseorang meneriakan mantra pelindung.

Ah…. Aku meringis menahan sakit. Kulihat aku sudah berada di penjara batu. Dingin, lembab dan sepi. Rupanya aku pingsan dan masih hidup. Syukurlah. Tapi aku bertanya-tanya, siapa yang melindungiku. Pertanyaanku terjawab. Viveka duduk di luar sel tahananku. Kini, ada dua pertanyaan menghantuiku. Dimana Rhue berada dan kenapa kau sangat baik padaku? Seakan ia sudah tau aku menanyakan hal itu, ia bergumam “Mmm. Aku hanya tidak ingin darah elfmu mengotori desaku.” Aku tertawa kecil. Aku tau dia bohong. Dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Selang 3 detik, ia terisak. “Aku mohon, pergilah. Kau bisa terbunuh di sini.” Ia mengusap air matanya dengan telapak tangan kirinya. “Tidak! Sampai kutemukan Rhue. Aku bersamanya ke sini, maka aku pun akan pulang bersamanya.” tegasku. Tik tik. Sunyi. Tidak ada jawaban. Isak tangisnya pun tidak terdengar.\

“Kakak Cca!” suara Rhue terdengar begitu dekat. Aku menoleh ke kiri. Rhue berada di seberang sel-ku. Di tiap penjara, hanya ada 1 obor. Begitu sulit untuk melihat dengan jelas. Aku menagis, tangis bahagia. “Rhue.. Rhue..” Aku terus memanggil namanya. Betapa bahagianya akhirnya aku bisa melihatnya dalam keadaan hidup. Tidak percuma aku terluka sampai seperti ini. Rhue memantrakan dirinya menjadi serangga dan masuk ke dalam sel tempat aku ditahan. Kini, ia benar-benar berada di dekatku. Aku menunggu pelukannya, tapi ia sangat dingin menatapku. Seperti tatapan pembunuh. “Kakak Cca, hmm… bukan. Lucca, berhenti mencariku. Aku tidak akan kembali.” Aku terkesima mendengar ucapannya. Awalnya kupikir ia seperti ini lantaran ulah sihir dwarf. Secara fisik ia memang adikku, tapi ia sangat sangat sangat dan sangat berbeda dari Rhue yang biasanya. Tanpa aku bertanya, ia sudah mejawabku, “Aku bukan Rhue yang dulu. Aku seorang pembunuh.” SRIIINNGGG… Ia mengeluarkan spear dan siap menggorokku.
“Aku bisa saja membunuhmu sekarang Lucca.” Ia tertawa terbahak-bahak. Tawa penuh kemenangan. Sulit kupercaya, apa yang membuatnya berubah. Aku masih menginginkan Rhue yang dulu.

KLIK…. Pintu sel terbuka. Sang kepala suku dwarf masuk pintu sel ditemani 4 algojo dwarf. Ia mengisyaratkan para algojo dwarf untuk membawaku ke kediamannya. Aku yang masih sekarat, patuh mengikutinya. Mereka menghempasku ke lantai. Aaahh.. Aku mengerang kesakitan. Di dalam rumah kepala suku dwarf, hanya ada kepala suku, aku dan Rhue.
“Selamat datang di desa dwarf, elf. Maaf, jika sambutan kami kurang memuaskan.” kepala suku memincingkan mata geram penuh kebencian. “Badai itu buatan kami. Hahahaaa…” Ia tertawa puas. “Sekarang seluruh spesies elf di desa Greemasht sudah musnah. Huahahahaa….” tawanya sangat memekakkan telinga. Setetes air mataku jatuh. Setidaknya aku sudah tau, bagaimana keadaan ibu dan yang lain. “Spesies elf terakhir hanya tinggal dirimu.” lanjutnya. Spesies terakhir? Aku melirik Rhue. “Ckckckckckk… Tidak. Rhue bukan elf. Apa kau buta atau biar kutunjukkan padamu.” Dengan hentikan jari, Rhue berubah menjadi dwarf, lebih tepatnya berubah menjadi Viveka. Darahku membeku. Kini terjawablah semua pertanyaanku. Tidak semua. Ada satu pertanyaan yang tidak bisa kutanyakan. Cukup kusimpan dalam hati. Mengapa kamu membiarkan aku hidup dalam badai itu dan membawaku kemari. Aku membunuh rasa keingintahuanku. Amarah, dendam, sakit hati yang aku rasakan lebih besar saat ini.

Tanah bergemuruh, goncangannya membuat dinding-dinding retak, barang-barang berjatuhan. Dapat kudengar teriakan para dwarf di luar rumah kepala suku. “Hey, kau! Apa yang kau lakukan?!” tanya kepala suku penuh amarah. Aku bangkit perlahan, berdiri tegak, mengacungkan spear setinggi yang kubisa. “Bardanish”. Kukeluarkan mantra keramat bangsa elf. Mantra untuk meledakan semua yang berjarak 1 mil laut atau 6.080 kaki dariku, termasuk diriku sendiri. Menjelang detik-detik kematianku, aku terlebih dahulu melihat kepala suku dan Rhue mati meledak di depanku. Sampai akhirnya aku pun menyusul mereka dalam ledakanku sendiri.

Kematianku untuk bangsaku, ibuku, diriku, dan Rhue yang mengkhianatiku. Peperangan nenek moyang berakhir pada hari ini, saat aku menutup mata. Semua bangsa elf dan dwarf hilang dari muka bumi ini. Kami yang tak bersalah, diharuskan menanggung dosa nenek moyang kami. Bahkan sebuah alasan perang pun kami tak tau. Ironis!

Kakak Cca… Air mataku mungkin tidak bisa menggapaimu. Aku ingin mengucapkan terima kasih dan maaf. Aku hanya menjalankan tugas sebagai dwarf. Aku tidak bisa membunuhmu, maka aku membawamu ke desa dwarf. Aku memang mati, tapi aku tersenyum dalam kematianku. Karena aku mati bersamamu, kakak cca.


http://www.emoticonizer.com

Monday, February 6, 2012

Kitorang Basodara

Dilihat dari judulnya tampak ketimur-timuran sekali. Jelas pada postingan kali ini, gue akan ngebahas tentang VOTE (Voice from The East). Mungkin banyak dari kalian yang belum tau, apa itu VOTE. Sebelum gue bahas tentang VOTE, gue akan paparkan kronologis gue menghadiri acara VOTE kemarin. Kemarin hari Minggu (5/2), temen gue, si Panca mention gue tentang perform @endahNrhesa. Pas gue liat pamfletnya, busyyeett banyak banget artisnyaaa. Ada Glenn Fredly, Tompi, Sandhy Sandoro, Efek Rumah Kaca, Maliq n D'essential, Barry Likumahua, Pandji Pragiwaksono, Matthew Sayerz, Jflow, Edo Kondologit, Endah n Rhesa, The Extralarge, Ivan Nestroman, Boy Clemens, Nicky Manuputty, Frank Sihombing, Boyz II Boys, AIKO, ETC. Terus terang yang gue incer adalah Efek Rumah Kaca, Maliq n D'essential sama EnR. Skali mendayung tiga pulau terlampau. Dah gitu FREE #banciFREE http://www.emoticonizer.com Kelar gue gawe jam 4 lewat, gue langsung ke fX. Tidak lupa singgah ke Kinokuniya Bookstore yang dgr2 lg diskon 70% #banciSALE. Akhirnya gue ke lantai 3, dan EnR udah perform lagu pertama.
Temen2 gue dah ngambil posisi depan panggung. Gue nyumbang VOTE, yang terus terang, gue belum paham bener itu buat apa. Pas nyumbang gue dapet press releasenya. Jadi VOTE itu gerakan kampanye sosial untuk membenahi kebudayaan, politik, lingkungan, kesejahteraan, pokoknya semua yang ada di Indonesia timur. Belum lagi kerusuhan yang begitu marak. Mereka juga mengakui mereka lebih di belakang daripada Indonesia bagian lain. Maka dari itu, darisitu terciptalah VOTE. Mereka punya slogan "Matahari yang membawa harapan telah bersinar". Bagus banget loh, lewat hadirnya band2 yang dahsyat ini, aspirasi mereka tersampaikan. Tidak hanya Indonesia, kalau bisa seluruh dunia tau dan ikut membantu. SUMPAH! Gue salut banget dan merasa tergerak untuk ikut kampanye itu. Scara ya gue juga dari Ambon gitu loh http://www.emoticonizer.com Tujuan VOTE ini untuk ngebuka masyarakat seluruh Indonesia akan "penguasa2" yang udah ngancurin tatanan sosial dan hak masyarakat, serta lingkungan hidup untuk alam. Untuk lebih jelasnya klik aja www.voicefromtheeast.org
Selesai EnR manggung, gue pepotoan bareng EnR beserta dengan tmn2 @earFriendsJKT
Kemudian, perform dilanjutkan dari "Anak NTT Bermusik". Mereka nyanyi pake tarian NTT yang terkenal dengan nama "Ja'i". Keren banget loh!!! Sumpah..!! Audience itu nyatu semua ikut joget menari di depan panggung, bahkan ada bulenya.
Dilanjutkan dengan penampilan dari Ivan Nestroman
Maliq n D'essential pun mengambil giliran. Kyaaaaaaaaaaaaa Lale http://www.emoticonizer.com
The Extralarge hadir dengan suara Davina yang tinggi nan merdu kayak Mariah Carey
Perform Barry Likumahua feat Boyz II Boys juga disambut pake teriakan. Tapi emang keren looh mereka. Mata gue tertuju ma yang paling kiri pake jaket, yang jago banget nge-BEAT pake mulut. Matanya dy mirip banget sama my luphly pujangga, Dyka #kyyaaaaaaaaaaaaa http://www.emoticonizer.com
Terus ada Pandji Pragiwaksono, yang sebenernya dia nyanyi apa berorasi http://www.emoticonizer.com Tapi so far keren lagunya. Menyalurkan aspirasinya lewat lagu yang ditujukan untuk pemerintah
Ini dia yang gue tunggu akhirnyaaaaaaaaa Efek Rumah Kaca hadir jam 11 lewat. Lah!? Tapi itu bassistnya gue SHOCKKK.. Kok jadi changcutranger bgono http://www.emoticonizer.com Gue pikir sebelum dy naik panggung, dy salah seorang changcutranger, ternyata personil Efek Rumah Kaca #plaaakkk Mereka bawain 2 lagu Hilang sama Di Udara. 2 lagu doank setlah gue dah nunggu slama itu. Gapapa dech. Cukup terobati dengan foto bareng mereka
Gila, yang pasti gue salut banget sama acara ini. Semua menyatu tanpa memandang perbedaan yang ada. Semua bersukacita. Indah banget kalo terus kayak gini. Ayoook kita sumbangkan untuk Indonesia timur. Mereka hebat dalam bermusik, berekspresi, dan berkarya. Hidup VOTE! Halleluya! http://www.emoticonizer.com

Wednesday, February 1, 2012

Diskusi Acara Mizan: BerFANTASI TIDAK DILARANG

Sabtu, 28 Januari 2012, Mizan mengadakan diskusi acara dengan mengambil topik "BerFANTASI TIDAK DILARANG", di TM Bookstore Depok Town Square (Detos), pukul 14.00 - 16.00 WIB
Acara diskusi ini menghadirkan pembicara Djokolelono (Penulis Anak Rembulan), Ami Raditya (pencipta Vandaria), dan Fredrik Nael (Penulis Fantasy Fiesta). Apa yang membuat gue tertarik menghadiri diskusi itu, padahal waktunya weekend (waktu untuk libur), panas terik, dan nun jauh di Depok. Cukup jauh dari rumah gue. Tapi aku penasaran dengan ilmu-ilmu yang para pembicara akan bagikan. Terus terang, gue sudah menulis draft novel fiksi gue sejak SMA. Tapi masih bertengger di komputer gue http://www.emoticonizer.com Inti dari rasa penasaran gue sih lebih ke, bagaimana cara mengulik suatu ide hingga bisa seperti J.K.Rowling yang bisa kepikiran dengan eksisnya "Dementor" dan desain dari sekolah Hogwarts. Menurut gue, itu tidak mudah. Butuh imajinasi tinggi. Maka, gue berminat sekali datang ke acara itu. Sesampainya gue di sana. Anak-anak Goodreads udah nongol di barisan paling depan http://www.emoticonizer.com
Djokolelono mulai membagikan ilmunya kepada hadirin. Judul novelnya yang "Anak Rembulan" itu ceritanya, ada seorang anak yang tinggal di pohon kenari. Fantasi abis dan seru kayaknya kalau punya bukunya. Dia bilang "Jika ingin berFANTASI, maka harus jelas alur dan segmentasinya ke mana. Saat draft, dari awal sampe akhir harus udah tau ceritanya kayak gimana". Banyak yang dia bilang, tapi intinya begitulah. Abis semua ada di otak gue, susah jelasinnya http://www.emoticonizer.com Kemudian, lanjut dengan pembicara Fredrik Nael dan terakhir Ami Raditya. Selesai pembicara bicara, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab sama kuis. Yang menang dapat beberapa buku Mizan dan voucher belanja. Secara itu diskusinya diadain di TM Bookstore, yaudah pada belanja di situ, termasuk gue http://www.emoticonizer.com Gue gag tau ternyata di TM Bookstore Depok itu semua buku diskon 15%. Kayak Togamas Bandung yaph http://www.emoticonizer.com Tapi buku-buku yang gue cari rata2 gag ada. Zzzzzz ~______~" Akhirnya gue beli ini
#kyaaaaaa Supernatural http://www.emoticonizer.com Anak rembulan, Fantasy Fiesta dan Vandaria jadi tertarik gue pengen beli bukunya.... Tau gitu kmaren gue beli tiga-tiganya plus ditandatanganin #koplaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkk beud gue http://www.emoticonizer.com Selamat membaca! ^^