Monday, November 28, 2011

Opini Publik dan Disabilitas

Dilihat dari apapun juga, tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial. Tidak dapat hidup sendiri, memerlukan bantuan orang lain dan hidup berdampingan. Semua manusia tanpa terkecuali, termasuk orang disabilitas. Orang disabilitas adalah orang yang kurang beruntung dalam hal fisik. Meskipun dipandang sebelah mata, mereka berusaha untuk tetap hidup dengan mencari nafkah sendiri.
Kesan pertama yang ditorehkan kebanyakan orang saat baru melihat orang disabilitas, langsung pergi menjauh atau menghindar. Mengapa? Toh, orang-orang itu bukan penjahat ataupun tukang hipnotis yang harus dijauhi dan diwaspadai sedemikian rupa. Realita yang lebih menambah opini saya terhadap publik akan orang disabilitas adalah tidak tersedianya lapangan kerja bagi mereka. Jujur saja, dari seumur hidup saya hidup. Saya baru sekali melihat untuk pertama kalinya ada sebuah perusahaan yang mencantumkan tanda “disabilitas” dalam page lowongan kerjanya. Artinya, perusahaan itu memperbolehkan orang disabilitas untuk ikut melamar, untuk ikut berpartisipasi dan untuk ikut bekerja dalam perusahaan tersebut. Saya sangat salut akan perusahaan itu. Hal seperti itulah yang patut dicontoh perusahaan-perusahaan lainnya.
Keahlian orang disabilitas yang lebih dibanding orang yang mempunyai fisik lengkap, contohnya dalam bidang olahraga. Media sekarang banyak memberitakan lomba-lomba khusus orang disabilitas. Seperti saat HUT Jakarta diadakan lomba untuk orang-orang disabilitas. Lomba ini pun disambut baik oleh mereka yang mendaftar sebagai peserta. Lomba ini terdiri dari lomba karaoke, tenis meja, tata boga, tata rias, vocal group, dan pidato. Masyarakat pun memberi opini akan lomba tersebut, bahwa orang-orang disabilitas tidak bisa dianggap remeh dengan segala kekurangannya. Terdapat saling silang, saling melengkapi dalam siklus kehidupan ini. Apa yang tidak bisa mereka lakukan dapat kita lakukan, sedangkan apa yang mereka bisa lakukan tetapi tidak bisa bagi kita. Tuhan itu adil. Mungkin kita memiliki fisik lengkap, namun otak, ide, kreativitas yang kita miliki jauh dibawah mereka. Mereka memiliki keahlian dalam bidang yang berbeda.
Berbicara tentang disabilitas dan pandangan masyarakat, saya pribadi menilai bahwa masyarakat Indonesia kurang peduli akan nasib kaum disabilitas. Mungkin hanya sepersekian orang, namun belum seluruhnya. Memang sangat disayangkan sekali. Tetapi sebagian orang yang peduli itu sedikit demi sedikit berhasil menyamaratakan posisi orang disabilitas. Memperjuangkan hak-hak mereka. Lewat didirikannya PPCI (Persatuan Penyandang Cacat Indonesia) yang mengedepankan hak-hak orang disabilitas, patut diacungi jempol. Kegiatan mereka yang positif seperti mengadakan bursa kerja bagi penyandang cacat, lomba karya tulis braille, kompetisi miss deaf world, dll merupakan suatu tindakan positif untuk membangkitakan kesadaran masyarakat bahwa dunia bukan hanya milik yang memiliki raga utuh. Dibuatnya UU Penyandang Disabilitas merupakan salah satu harapan PPCI dan seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak mengesampingkan apa yang menjadi hak-hak bagi kaum disabilitas.
Sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang disabilitas, yaitu tidak boleh pasrah. Jangan pernah berpikir bahwa dengan keterbatasan fisik, mereka tidak dapat melakukan apapun. Ada banyak orang-orang disabilitas yang mejadi pasrah akan hidup ini, sehingga mereka lebih memilih menjadi pengemis,tukang minta-minta atau yang lebih parah lagi menjadi copet/penipu ulung, bahkan mungkin bandar narkoba. Cara pikir “pasrah” seperti itu yang harus dihindari orang disabilitas. Dengan dilindungi pemerintah, mereka mendapatkan hidup yang cukup untuk disyukuri. Ada baiknya untuk mengambil kekurangan mereka sebagai hikmah, daripada sebagai suatu musibah. Ada banyak contoh yang dapat mereka teladani, seperti contoh Stevie Wonder, salah satu penyanyi disabilitas yang amat sangat patut diteladani menurut saya. Dapat menjadi terkenal dengan keterbatasan yang ia miliki. Stevie Wonder hanyalah salah satu contoh, masih banyak orang-orang disabilitas lainnya yang patut untuk diteladani. Tapi saya tahu, bahwa teori lebih mudah dibandingkan praktek. Maka saya sebagai salah satu masyarakat, hanya dapat mendukung, memberi santunan dan mendoakan mereka.
Pentingnya pengertian dan sikap moral untuk diajarkan kepada anak-anak usia dini akan hal-hal yang berhubungan dengan disabilitas. Mereka cenderung menghina, memaki, memandang rendah bahkan tidak peduli orang-orang disabilitas itu ada. Ada baiknya orangtua untuk memberitahukan kepada anak-anak mereka dan juga guru-guru kepada murid-muridnya tentang definisi, pemahaman dan akibat tindakan negatif anak-anak yang mungkin belum paham benar akan maksud dari disabilitas itu sendiri. Karena menurut psikologis, orang-orang disabilitas lebih “perasa” jika diperlakukan negatif. Mungkin yang kita lihat mereka tegar dan sudah kebal akan caci maki yang diterima selama hidupnya, namun siapa yang tahu dalam hatinya menyimpan luka seperti apa.
Sungguh mengangkat nilai orang disabilitas yang dengan adanya situs www.kartunet.com yang merupakan media online yang unik oleh karena dibuat para tunanetra yang pakar akan bidang IT dan blog. Lewat kompetisi blogging yang diadakan kartunet.com juga membuat masyarakat luas yang mengikuti lomba ini jadi paham benar akan definisi, LSM, jalan keluar dari pemerintah, serta UU yang berhubungan dengan disabilitas. Dengan adanya pemahaman ini membuat kami, khususnya saya untuk lebih saling menghargai dan mentolerir orang disabilitas.
Saya berharap semoga kartunet.com menjadi lebih maju lagi dalam pemberitaan sosial agar terwujudnya masyarakat yang tanpa diskriminasi (inklusif), sehingga Negara Indonesia menjadi damai tanpa melihat kesenjangan sosial dalam hal fisik.